Pemantapan Program Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Memasuki Kurva Kedua Badan Litbang Pertanian

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Puslitbang perkebunan sebagai bagian tak terpisahkan dari Kementerian Pertanian, mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan pertanian melalui inovasi teknologi perkebunan. Terkait dengan 4 sasaran utama Kementerian Pertanian (swasembada berkelanjutan, diversifikasi, peningkatan daya saing, peningkatan kesejahteraan petani), Puslitbang Perkebunan harus mengambil peran terdepan dalam memberikan kontribusi terhadap pencapaian sasaran tersebut.

Melalui Raker Puslitbang Perkebunan yang dilaksanakan di Manado pada tanggal 6-8 Maret 2012 dengan tema “Pemantapan program penelitian dan pengembangan perkebunan memasuki kurva kedua Badan Litbang Pertanian”. Diharapkan peran tersebut dapat dijabarkan melalui dukungan teknologi terhadap program strategis Kementerian Pertanian. Raker diikuti oleh para pejabat struktural, peneliti senior, ketua kelti, pemimpin program penelitian dari Puslitbang Perkebunan, Balittro, Balittas, Balit Palma, dan Balittri.

Tujuan dari Raker ini adalah meningkatkan kinerja Puslitbang Perkebunan dalam rangka memperkuat dukungan terhadap pencapaian target Sasaran Utama Kementerian Pertanian. Target tersebut dicapai melalui upaya penajaman program Puslitbang Peerkebunan Tahun 2015-2019, Penguatan Rencana Aksi Program dan Anggaran TA 2014.

Raker diawali dengan penyampaian sosialisasi tentang standar Kompetensi Jabatan Funsional Peneliti yang disampaikan oleh Prof. Elna Karmawati. Dalam paparannya menguraikan persyaratan kompetensi minimal yang harus dimiliki seorang PNS dalam pelaksanaan tugas sebagai pejabat fungsional.

Raker dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Dr. Muhammad Syakir, MS.,. Dalam arahannya Kapus menekankan bahwa sebagai lembaga riset, kita harus memperkuat scientific base yang bermuara pada impact base, serta bersifat solutif. Untuk mencapai program yang diinginkan tersebut perlu disusun suatu blue print jangka pendek dan jangka panjang. Blue print yang diinginkan adalah yang visioner yaitu yang menghasilkan teknologi yang dapat mengantisipasi berbagai perubahan lingkungan strategis. Dan bersifat solutif yaitu mampu mengatasi berbagai permasalahan komoditas yang terjadi di lapangan secara holistik (skalanya luas).

Penelitian dan pengembangan perkebunan tahun 2015-2019 harus menghasilkan invention-inovation-solution, lanjut Kapus. Prioritasnya pada 18 komoditas perkebunan meliputi: kelapa sawit, kelapa, tebu, karet, kopi, kakao, teh, kapas, tembakau, kemiri sunan, jarak pagar, lada, cengkeh, nillam, jahe, jambu mete, sagu, dan aren. Bidang penelitian program pendukung terkait komoditas tersebut meliputi: antisipasi perubahan iklim, pemanfaatan limbah untuk bahan bakar nabati, green agriculture (ramah lingkungan), pemanfaatan bioteknologi untuk menghasilkan varietas unggul, dan analisis kebijakan.

Sebagian besar (70%) program penelitian perkebunan sebaiknya dirancang sebagai blue print penelitian di tingkat unit kerja yg merupakan bagian dari “block program” Badan Litbang Pertanian. Block program penelitian Badan Litbang Pertanian merupakan program khusus ke bawah (top-down) dan menjadi pegangan para peneliti untuk melaksanakan penelitian/kebijakan. Penelitian yang tidak termasuk block program penelitian yang tidak top-down, lebih tematik dan bersifat sebagai penelitian dasar harus tetap difasilitasi anggarannya.

Direktorat Jenderal Perkebunan menyampaikan Program Strategis Perkebunan 2015-2019 dan Kebutuhan Inovasi Pendukungnya. Hasil restrukturisasi program pembangunan perkebunan tahun 2010 – 2014 adalah: “Peningkatan Produksi, Produktivitas Dan Mutu Tanaman Perkebunan Berkelanjutan”. Tujuannya adalah meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan melalui rehabilitasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang didukung oleh penyediaan benih bermutu, penanganan pascapanen dan pembinaan usaha dan perlindungan perkebunan.

Dari 127 komoditas binaan perkebunan, program pembangunan perkebunan tahun 2010-2014 fokus pada 15 komoditas strategis unggulan nasional yaitu Karet, Kelapa Sawit, Kelapa, Kakao, Kopi, Lada, Jambu Mete, Teh, Cengkeh, Jarak Pagar, Kemiri Sunan, Tebu, Kapas, Tembakau dan Nilam. Ke-15 komoditas tersebut telah menjadi fokus penelitian Puslitbang Perkebunan. Selain itu juga disampaikan Isu-isu terkait kegiatan inovasi lingkup Ditjen. Perkebunan dalam mendukung pembangunan perkebunan.

Renstra 2015-2019 masih perlu disempurnakan dengan menyusun dokumen “Mapping dan Modelling Komoditas Unggulan”  untuk menentukan arah penelitian dan pengembangan dengan berdasarkan scientific base, impact base dan orientasi pemecahan masalah (solutif). Penyusunan naskah “blueprint” dan Renstra dari masing-masing UPT merupakan dokumen penting dalam menyusun “Block Program” dan Renstra Puslitbang Perkebunan dan Badan Litbang Pertanian tahun 2014-2019.

Perlu segera dibentuk Tim Pakar lingkup Puslitbang Perkebunan yang berkompeten untuk mengevaluasi dokumen Block Program. Dokumen yang disusun oleh setiap UK/UPT disosialisasi dan dievaluasi melalui FGD (Forum Group Discussion) oleh pengguna dan pakar dari dalam dan luar Puslitbang Perkebunan. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan umpan balik sehingga diperoleh Block Program yang acountable.

Block Program yang telah disepakati akan ditetapkan menjadi Block Program Badan Litbang Pertanian. Langkah-langkah operasional Block Program perlu dituangkan menjadi dokumen-dokumen rencana penelitian (RPTP). Di dalam dokumen Block Program perlu diantisipasi perubahan-perubahan dinamik dan lingkungan (maksimal 30%) dari seluruh target yang direncanakan.

Penyusunan Renstra 2015-2019 perlu memperhatikan isu-isu nasional meliputi “food, feed, fuel, fibre, environment dan climate change”. Hal ini memerlukan penataan organisasi dan peningkatan kapasitas SDM. Program dan identifikasi teknologi untuk diseminasi dalam rangka meningkatkan litkajibangrapdiklatluh balai nasional dengan pengguna, termasuk BPTP, dan stakeholder lainnya juga perlu dimasukkan dalam program renstra. Yang tidak kalah penting adalah manajemen sarpras, SDM, keuangan, waktu dan konflik.

Hasil Raker Puslitbang Perkebunan ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti agar sasaran yang ditetapkan dapat tercapai. (\Redaksi)