Pengendalian OPT pada Tanaman Teh

INOVASI PERKEBUNAN – Masalah residu pestisida pada teh sebagai akibat dari tingginya penggunaan pestisida di perkebunan teh perlu mendapatkan perhatian untuk mengamankan dan meningkatkan ekspor teh Indonesia.

Upaya untuk meminimalisasi penggunaan pestisida dan masalah residu yang diakibatkannya, dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan, yaitu pengendalian non-kimiawi, perbaikan lingkungan, dan penggunaan pestisida yang secara bijaksana.

 

Untuk mendukung upaya ini, telah dilakukan penelitian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Litbang Kementerian Pertanian pada tahun 2011 untuk menghasilkan teknologi cara pengendalian yang ramah lingkungan untuk beberapa OPT utama teh, meliputi tungau jingga (Brevipalpus phoenicis), penyakit cacar (Exobasidium vexans), Empoasca flavescens, dan gulma picisan (Polypodium nummularifolium).

Penggunaan jamur entomopatogenik Paecilomyces fumosoroseus efektif mengendalikan tungau jingga (Brevipalpus phoenicis). Di laboratorium P. fumosoroseus efektif pada konsentrasi spora 108 spora/ml, efektif mengakibatkan kematian tungau jingga mulai Sedangkan di lapangan, P. fumosoroseus pada medium beras pada dosis 3 kg/ha efektif mengendalikan tungau jingga setelah 6 kali aplikasi.

Empat jenis compost tea , yaitu CT1 (Pupuk kandang kambing 25%, Hijauan 45%, Bahan berkayu 30%), CT2 (Pupuk kandang sapi 25%, Hijauan 45%, Bahan berkayu 30%), CT3 (Pupuk kandang kambing 25%, Hijauan 30%, Bahan berkayu 45%), CT4 (Pupuk kandang kambing 50%, Hijauan Arachis pintoi 50%) potensial mengendalikan penyakit cacar.

Formulasi insektisida nabati Marigold yang dihasilkan efektif terhadap Empoasca flavescens. Di laboratorium, formulasi B (Marigold 15%) lebih efektif dibandingkan dari formulasi 10. Dan dosis 1 l/ha lebih efektif dari dosis 0,5 l/ha. Di lapangan, efektivitas formulasi Marigold 10% pada dosis 0,5 l/ha sama dengan formulasi Marigold 15% pada kedua dosis 0,5 dan 1,0 l/ha), dan sebanding dengan insektisida kimia.

Pemangkasan mempengaruhi perkembangan gulma picisan. Pangkasan bersih dan pangkasan tengah bersih lebih efektif mengendalikan gulma picisan dibandingkan dengan pangkasan meja. Pengendalian gulma picisan dengan herbisida setara dengan pengendalian secara manual, kecuali 2,4-D murni. Kombinasi/campuran Glifosat dan Picloram yang secara konsisten menghasilkan jumlah tunas primer teh terbanyak.